BELAJAR MENDENGAR SEBAGAI DASAR BELAJAR BERBAHASA (FROM AUDITORY TO ORAL)

Mengapa belajar mendengar?

Faktanya:

  1. Hanya kurang dari 23% dari kata-kata yang dapat diidentifikasi melalui baca bibir.
  2. Intonasi atau nada bicara hanya bisa didapat dari mendengar.
  3. Benar tidaknya kita mengucapkan suatu kata hanya bisa diketahui dari mendengar.

Mengapa berbahasa?

Pengertian bahasa adalah produk sosial yang tersimpan di otak setiap orang, bunyi tutur sehari-hari yang diucapkan melalui organ mulut sebagai prasarananya, sebagai alat untuk bergaul satu sama lain.

Tugas kita sebagai orang tua adalah memasukkan sebanyak mungkin kosa kata ke dalam otak anak sehingga dapat digunakan sebagai alat untuk bergaul atau berkomunikasi.

Dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan anak dengan gangguan pendengaran bukan berasal dari dininya anak terdeteksi, tetapi dari tingkat keterlibatan (intervensi) orang tua dalam menangani kebutuhan anaknya.

Mengapa Oral?

Anak dengan alat bantu dengar belajar berbahasa terutama melalui mendengar, dan dengan bantuan visual apabila diperlukan. Orang tua mendorong anak untuk belajar mendengar, berbahasa, dan berbicara melalui kegiatan sehari-hari. Petunjuk visual (gerak tangan, gerak bibir, ekspresi wajah) dapat digunakan untuk memperkenalkan satu kata baru apabila dibutuhkan. Bisa disempurnakan dengan terapi wicara, tetapi kegiatan sehari-hari di rumah tetap dirancang untuk membantu perkembangan bahasa anak. Peran orang tua sangat diperlukan untuk menunjang perkembangan bahasa anak.

Fakta Perkembangan Bahasa Anak

Pada usia 12-18 bulan, anak yang tidak mengalami gangguan pendengaran dapat menggunakan sekitar 20 kata ekspresif sederhana, 50 kata reseptif, mengerti perintah sederhana, dan mengerti pertanyaan sederhana.

Bagaimana dengan anak yang memakai alat bantu dengar? Rentang waktu yang sama dibutuhkan oleh anak yang memakai alat bantu dengar, dengan catatan bahwa anak mendapat amplifikasi dan penanganan yang tepat.

Tahapan mendengar dan bicara bagi anak yang memakai alat bantu dengar adalah: sadar suara, memperhatikan suara, mencari sumber suara, membedakan suara, mengontrol suara, memproses secara auditory, pemahaman à kalimat, percakapan.

Semuanya membutuhkan proses. Tidak ada yang instant.

Lantas bagaimana apabila anak dengan gangguan pendengaran tidak mendapat amplifikasi dan penanganan yang tepat? Masalah apa yang mungkin timbul? Masalah yang bisa timbul adalah: masalah komunikasi, masalah perilaku, masalah emosional, masalah sosial, masalah akademis.

Setelah anak kita dideteksi memiliki gangguan pendengaran lantas apalagi yang harus kita lakukan? Berikut adalah beberapa langkah yang harus kita lakukan:

Memberikan amplifikasi yang sesuai dengan kebutuhan anak

Untuk memenuhi kebutuhan ini orang tua harus melakukan konsultasi dengan audiologist.

Yang harus dilakukan orang tua setelah anak memakai alat bantu dengar:

  • Melakukan FFT aided (free field test dengan memakai alat bantu dengar) bagi anak. Jangan lupa untuk meminta print out dari hasil FFT tersebut untuk kepentingan evaluasi audiologis.
  • Melakukan cek batere dan alat bantu dengar setiap hari. Anak yang baru memakai alat bantu dengar belum terbiasa untuk merespon suara dan melaporkan kalau batere alat bantu dengarnya habis atau alat bantu dengarnya rusak. Untuk itu orang tualah yang harus melakukan pengecekan tersebut.

Menjadi model bahasa lisan yang utama

Orang tua adalah model bahasa lisan yang utama. Untuk itu keterlibatan orang tua dalam pengasuhan anak sangat dibutuhkan agar anak dapat mencontoh bahasa lisan sesuai dengan yang diharapkan orang tua, karena orang tuanya yang menjadi modelnya.

Bagaimana dengan orang tua yang bekerja? Pastikan bahwa pengasuh anak atau yang mengambil alih tugas pengasuhan dari orang tua memiliki bahasa yang sama dengan orang tua dan sesuai dengan keinginan orang tua. Tujuannya adalah agar anak tidak merasa bingung karena mendapat input bahasa yang berbeda.

Memastikan bahwa anaknya memakai alat bantu dengar sepanjang waktu terjaga

         Anak sebaiknya memakai alat bantu dengarnya sepanjang waktu terjaganya (kecuali bila mandi, berenang, atau kehujanan). Alat bantu dengar harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan   bagi anak. Untuk itu adalah tugas kita sebagai orang tua untuk membuat anak mendapatkan manfaat dari alat bantu dengar dan merasa membutuhkan alat bantu dengarnya.

         Alat bantu dengar harus dipakai saat anak sedang bermain, belajar, dibacakan buku cerita, dan saat kegiatan lainnya. Banyak input/masukan yang bisa didapat anak dari mendengar.

Menciptakan lingkungan mendengar yang optimal pada saat belajar

         Pada saat belajar, sebaiknya anak berada di lingkungan yang optimal untuk mendengar. Tidak ada suara keran dibuka, tv menyala, radio, kipas angin, atau lainnya. Suara-suara tersebut bisa terdengar dominan dan mengganggu input suara yang didapat.

Menjalani terapi

Ada beberapa macam terapi untuk anak dengan gangguan pendengaran, yaitu terapi wicara (speech therapy) dan therapy auditory verbal (AVT). Kenali dulu setiap macam terapi. Pilih yang sesuai kebutuhan dan keadaan. Dalam terapi wicara, yang menjadi klien adalah anaknya. Sedangkan dalam AVT, yang menjadi klien adalah orang tuanya.

Evaluasi berkala

Tetap melakukan evaluasi baik dalam hal audiologis maupun dalam hal kemajuan dalam terapi.

Memasukkan anak dalam program mainstream semaksimal mungkin

Bisa ke taman bermain, PAUD, TPA/sekolah minggu, Play Group, maupun TK umum. Banyak hal yang menjadi pertimbangan untuk menempatkan anak dalam lingkungan umum. Hal yang perlu diingat adalah teman sebaya bisa menjadi model berbahasa lisan yang baik.

Hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan saat berinteraksi dengan anak yang memakai alat bantu dengar adalah:

      Berteriak kepada anak

      Melebih-lebihkan gerak mulut

      Memakai gesture yang berlebihan

      Memakai isyarat yang tidak umum

Mengapa sebaiknya tidak dilakukan? Ingat kembali kepada tujuan awal kita bahwa kita menginginkan anak kita bisa berbahasa sama seperti anak yang tidak memakai alat bantu dengar. Hal-hal di atas menghambat anak untuk belajar berbahasa.

Disampaikan dalam forum “Family Support Group” di BIMA edrea pada hari Sabtu, 6 Juli 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s