Penjelasan Untuk Guru di Sekolah Umum

Posting berikut dipublish ketika Menur naik ke kelas 2 di SD GIS (Global Islamic School) di Condet, Jakarta Timur. Sekarang Menur sudah kelas 3.

Jumat, 15 Juli 2011

Hari ini adalah hari pertama Menur masuk di kelas 2 Primary GIS.  Dan seperti biasanya, setiap kenaikan kelas saya harus menerangkan kembali kepada guru kelas yang baru tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan kekhususan Menur.  Di Primary GIS ini Menur adalah murid pertama dan satu-satunya yang mengalami gangguan pendengaran dan memakai alat bantu dengar (abd) hingga saat ini.

Lantas, apa yang harus saya terangkan kepada guru-gurunya Menur? Pertama-tama, saya selalu tanya apakah para guru tersebut pernah punya kenalan atau keluarga yang tuli. Istilah “tuli” ini saya pergunakan karena istilah yang lebih halus yaitu “gangguan pendengaran” belum umum digunakan. Dan hasilnya adalah bahwa sebagian besar dari para guru tersebut belum pernah berhubungan dengan orang yang mengalami gangguan pendengaran.   Nah, kalau berhubungan dengan orang yang mengalami gangguan pendengaran saja belum pernah, bagaimana mereka tahu tentang abd dan FM system?

Dengan demikian saya menyimpulkan bahwa penjelasan yang akan saya berikan harus se-awam mungkin dan tidak menggunakan istilah-istilah yang sering digunakan dalam dunia kedokteran dan audiology yang memang berhubungan dengan dunia gangguan pendengaran.

Satu hal lagi, jangan pernah menyebutkan harga dari abd dan FM yang anak kita pakai. Dengan demikian guru tidak akan merasa terbebani untuk melindungi abd dan FM yang dipakai anak kita. Karena harganya memang ‘lumayan’ tinggi (buat saya). Lantas, bagaimana caranya agar guru ikut melindungi abd dan FM anak kita? Kalau saya dengan cara memberi kesadaran bahwa abd dan FM itu sangat penting bagi anak kita. Caranya dengan meminta guru untuk menggunakan stetosklip yang dihubungkan ke abd dan FM.

Wali kelasnya Menur terkejut dengan ‘hasil pendengaran’ beliau ketika memakai stetosklip yang dihubungkan ke abd dan FM. Beliau kagum akan kejernihan suara yang didengarkan melalui stetosklip yang terhubung ke abd, dan bertanya: apakah Menur bisa mendengar tanpa abd ini? Owh, jawabannya sudah pasti: tidak bisa L

Ada lima halaman (saja) yang saya ‘terangkan’ kepada wali kelasnya Menur. Dan keterangan yang saya berikan hanya memakan waktu tidak lebih dari 5 menit. Tanya jawab antara saya dan para guru juga hanya berlangsung tidak lebih dari 5 menit. Memang saya sengaja tidak membuat presentasi yang panjang lebar agar para guru tidak merasa bahwa kehadiran Menur sebagai anak dengan gangguan pendengaran akan menjadi beban bagi mereka dan akan menyita waktu mereka.

Halaman pertama berisi gambar anatomi telinga. Dari halaman ini saya menerangkan telinga terdiri dari tiga bagian. Suara masuk ke telinga ditangkap dari daun telinga hingga bisa sampai ke rumah siput dan diubah menjadi getaran untuk disampaikan ke otak. Dari halaman pertama ini saya menerangkan bahwa gangguan pendengaran Menur ada pada hair cells di rumah siputnya.

Halaman kedua berisi gambar bagan audiometry dan dibawahnya saya tambahkan hasil ASSR Menur. Dari gambar ini saya menjelaskan tentang pengertian frekwensi, desibel, kita yang tidak mengalami gangguan pendengaran ada pada posisi maksimal 20 desibel, letak suara yang ada pada gambar, dan sisa pendengarannya Menur sesuai dengan hasil ASSR yang ada di bawahnya. Juga saya jelaskan bahwa suara yang dapat kita dengarkan adalah suara yang berada pada desibel yang lebih keras.

Halaman ketiga berisi gambar alat bantu dengar lengkap dengan bagian-bagiannya. Saat menjelaskan tentang abd ini saya meminjam sebuah abd pada Menur agar para guru dapat melihat dan memegang abd yang ‘real’. Pada bagian ini saya juga menjelaskan pantangan bagi abd. Sebagaimana alat elektronik pada umumnya, pantangan bagi abd adalah basah dan jatuh/terbanting.

Halaman keempat berisi tips cara berkomunikasi dengan pengguna abd. Kebanyakan orang mengira bahwa berbicara dengan orang yang pakai abd itu harus keras. Kenyataannya itu hanya akan menyebabkan distorsi pada suara yang dihasilkan oleh abd.

Halaman kelima berisi tentang teaching strategis bagi penempatan anak yang memakai abd di dalam lingkungan mainstreaming.

Perlengkapan yang harus kita siapkan dalam penjelasan ini selain lima halaman di atas adalah stetosklip. Tanpa stetosklip ini guru tidak akan dapat membayangkan seperti apa kerja abd (dan FM) yang dipakai oleh anak kita.

Mungkin bagi kita ini adalah hal yang sudah biasa. Namun tidak demikian bagi guru yang pertama kali menerima anak yang memakai abd di kelasnya.

Semoga dapat membantu.

Dan ini adalah lembaran presentasi saya kepada guru kelasnya Menur:

1. Penempatan Anak dengan ABD Di Kelas Reguler

2. Berkomunikasi dengan Pengguna ABD

3. ANATOMI TELINGA & AUDIOGRAM

Semoga bermanfaat.

Sumber: http://menurntik.multiply.com/journal/item/80/Penjelasan-Untuk-Guru-Kelas-2-SD-nya-Menur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s