Sekilas Tentang Terapi Wicara dan Terapi Auditory Verbal

Setelah anak dengan gangguan pendengaran diberikan alat bantu dengar yang sesuai dengan kebutuhannya (alat bantu dengar, kohlea implan, atau BAHA) anak perlu diberikan terapi. Ada dua macam terapi untuk anak dengan gangguan pendengaran, yaitu terapi wicara (speech and language therapy) dan auditory verbal therapy (avt).

Berikut adalah sedikit ulasan tentang terapi wicara dan avt:

 

Sekilas Tentang Terapi Wicara (Speech & Language Therapy)

 

Pengertian Terapi Wicara (bagi anak dengan gangguan pendengaran)

Usaha untuk meningkatkan kemampuan dalam hal berkomunikasi baik secara pemahaman maupun kemampuan secara lisan.

 

Metode dalam Terapi Wicara:

  1.     Bermain
  2.    Vokal
  3.    Meraban/babbling
  4.    Meniru/echolalia
  5.    Komunikasi, antara lain:a.   Komunikasi totalb.   Multisensoryc.   Auditory Verbal (AVT)

    d.   Phonetic placement

    e.   Stimulasi

    f.   Integral stimulator

  6.  Sensory motor

 

Pendekatan dalam Terapi Wicara:

1. Anak secara individual

2.  Metode yang digunakan

3.  Materi untuk latihan bicara individual

 

 

Tujuan Utama Terapi Wicara

  1.  Meningkatkan kemampuan untuk mengerti dan mengungkapkan pemikiran, ide, dan perasaan.
  2.  Meningkatkan kemampuan bicara.
  3.  Meningkatkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah dan kemandirian dalam lingkungan.
  4.  Meningkatkan kemampuan menelan dan keamanan menelan.
  5.  Mencapai kemampuan untuk kesiapan sekolah.
  6.  Meningkatkan kualitas vokal.
  7.  Meningkatkan kelancaran bicara.
  8.  Meningkatkan kemampuan bersosialisasi.
  9.  Meningkatkan kualitas hidup.
  10.  Meningkatkan rasa percaya diri.
  11.  Meningkatkan kemandirian.

 

Dirangkum dari berbagai sumber.

 

 

Sekilas Tentang Auditory Verbal Therapy (AVT)

 

Pengertian AVT

AVT adalah pendekatan intervensi dini untuk anak-anak dengan gangguan pendengaran dan keluarganya.

 

Fokus AVT

AVT fokus pada pendidikan, pengarahan, advokasi, dukungan keluarga, dan menerapkan teknik, strategi, kondisi, dan prosedur yang mengoptimalkan bahasa verbal melalui mendengar.

 

Tujuan utama AVT

Mengarahkan orang tua untuk menolong anak-anaknya membangun bahasa verbal yang baik melalui mendengar, dan membimbing orang tua untuk mengadvokasi anak-anaknya berinklusi dalam sekolah umum. Pada akhirnya, orang tua memperoleh rasa percaya diri bahwa anak-anaknya akan mempunyai akses yang luas dalam pendidikan, sosial, dan pilihan bakat/kejuruan.

 

Prinsip-prinsip AVT

1.  Menyarankan deteksi dini gangguan pendengaran pada bayi baru lahir, balita, dan anak-anak, diikuti dengan    manajemen audiologi dan AVT.

2.  Menyarankan asesmen dan penggunaan alat bantu dengar sesegera mungkin untuk mendapatkan keuntungan maksimal dari stimulasi suara.

3.   Membimbing dan mengarahkan orang tua untuk menggunakan pendengaran sebagai modalitas sensori dalam meningkatkan bahasa verbal tanpa menggunakan bahasa isyarat atau membaca bibir.

4. Membimbing dan mengarahkan orang tua untuk menjadi fasilitator utama bagi perkembangan mendengar dan bahasa verbalnya melalui partisipasi aktif dan konsisten dalam AVT.

5.  Membimbing dan mengarahkan orang tua untuk menciptakan lingkungan yang dapat menunjang perkembangan bahasa verbal melalui kegiatan sehari-hari.

6.  Membimbing dan mengarahkan orang tua untuk menggabungkan kemampuan mendengar dan bahasa verbal dalam semua aspek kehidupan anak.

7.   Membimbing dan mengarahkan orang tua untuk menggunakan pedoman alamiah mendengar, bicara, bahasa, bahasa, kognitif, dan komunikasi.

8.   Membimbing dan mengarahkan orang tua untuk membantu anaknya memonitor bahasa verbalnya melalui mendengar.

9.  Melakukan penilaian diagnosa formal dan informal untuk meningkatkan program perorangan auditory verbal, untuk memonitor perkembangan, dan untuk mengevaluasi efektivitas program bagi anak dan keluarganya.

10.  Mempromosikan pendidikan di sekolah umum bersama-sama dengan murid yang tidak mengalami gangguan pendengaran sejak dini.

 

Disadur dari: Auditory-Verbal Therapy and Practice by Warren Estabrooks, M.Ed., Dip. Ed. Deaf, Cert. AVT

Berikut adalah foto setelah sesi terapi wicara yang diikuti Menur pada Juli 2009.

1936474_1167088064698_1359055_n

 

Dan ini adalah rekaman ketika Menur sedang dalam sesi terapi wicara.

*Semoga bermanfaat*

*repost dan diedit dari sini*

Pertemuan Orang Tua dengan Anak Gangguan Dengar Tanggal 13 Desember 2015

Yayasan AKRAB (AKu bisa mendengaR dAn Bicara) mengadakan pertemuan orang tua dengan anak gangguan dengar (d/h tuna rungu) pada hari Minggu tanggal 13 Desember 2015 di Saung Alamanda – Taman Bunga Wiladatika Cibubur. Pertemuan ini kembali diadakan setelah pertemuan terakhir pada bulan November 2012. Dan sudah banyak yang menanyakan kapan acara serupa akan diadakan lagi.

Acara dibuka pada pukul 10.05 dengan dipandu oleh Ibu Ary Dwi Mamanya Icha. Icha berusia 10 tahun, gangguan dengar sangat berat, duduk di kelas 4 SD Semut-Semut di Depok, dan sudah memakai cochlea implant selama tiga tahun. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan yang disampaikan oleh Bapak Sulasmo selaku ketua Yayasan AKRAB. Pak Sulasmo adalah ayah dari Menur, gangguan dengar sangat berat, berusia 13 tahun, dan duduk di kelas 6 di Primary GIS Condet di Jakarta Timur.

20151213101120.jpg

Setelah sambutan ada performance tari dari Icha. Icha membawakan Tari Lenggang Patah Sembilan dari Melayu dengan lentur mengikuti irama musik. Oh iya, Icha juga adalah anak dengan gangguan dengar sangat berat (profound) berusia 9 tahun dan sudah memakai koklea implan selama dua tahun setelah sebelumnya memakai alat bantu dengar. Saat ini Icha sudah duduk di kelas 3 SD Semut-Semut di Depok, Jawa Barat.

C360_2015-12-13-10-26-20-144.jpg

Sekitar jam 10.30 acara inti dimulai yaitu berupa penyampaian materi yang disampaikan oleh dr. Tri Juda Airlangga, Sp. THT KL (K). Banyak sekali yang disampaikan oleh dr. Angga, antara lain adalah: tes-tes yang dilakukan dalam menentukan gangguan pendengaran pada anak, kapan tes-tes tersebut sebaiknya diulang, cara membaca hasil tes tersebut. Dijelaskan hasil tes yang seperti apa yang bisa dilanjutkan dengan pemakaian alat bantu dengar. Juga disampaikan tentang pengobatan dan yang dilakukan pada telinga yang mengalami OME, penjelasan tentang pemasangan gromet. Disampaikan juga protokol/prosedur pemasangan implan yang ditetapkan oleh THT RSCM.
12362700_10207707647516524_3820127423795484450_o
Selesai materi yang disampaikan selama lebih dari 1 jam acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan setiap pertanyaan dijawab langsung oleh dr. Angga. Sehabis tanya jawab dilanjutkan dengan sesi sharing. Sharing kali ini diisi oleh Bapak Gun-gun Ugun Cbr yang kebetulan putrinya baru saja terdeteksi gangguan dengar dan baru memakai alat bantu dengar. Dan sharing berikutnya diisi oleh Ibu Opi Novita mama Azka. Saat ini Azka sudah berusia 10 tahun, gangguan pendengaran sangat berat, memakai alat bantu dengar sejak usia 2 tahun 4 bulan, dan bersekolah di SD Victory Plus di Bekasi.
12182395_10207707185184966_7798876298135391926_o
Acara pertemuan kali ini berakhir pada pukul 13.30 dengan jumlah orang tua yang mengisi daftar hadir sebanyak 47 keluarga. Terima kasih kepada dr. Angga yang telah meluangkan waktunya untuk berbagi ilmu pada pertemuan kali ini. Semoga membawa manfaat dan menambah semangat bagi semua. Aamiin.

Sekilas video.

Mengoptimalkan the Ling 6-Sound Test setiap hari

Saya sering menemui keluhan para orang tua yang berada di daerah-daerah yang karena keterbatasannya tidak mendapatkan akses untuk free field hearing test (FFT) seperti tersedia pada pusat-pusat alat bantu dengar di kota-kota besar. Lalu seolah-olah pasrah karena tidak bisa melakukan evaluasi kemampuan mendengar buah hatinya. Padahal ada instrumen sederhana yang bisa digunakan yakni Ling 6-Sound Test.
Artikel ini diterjemahkan dari sebuah artikel yang dirilis pada tahun 2004 dan dimuat di www.audiologyonline.com dengan judul asli “Using the Ling 6-Sound Test Everyday”. Meskipun banyak diantara kita sudah mengenal Ling 6-Sound Test kadang-kadang karena sederhananya justru sering terabaikan. Mudah-mudahan bermanfaat.
***
Donna F. Smiley, Assistant Professor, University of Central Arkansas
Patti F. Martin, M.S., CCC-A, Director of Audiology and Speech-Language Pathology, Arkansas Children’s Hospital
Dee M. Lance, Ph.D., CCC-SLP, Assistant Professor, University of Central Arkansas
all-about-the-ling-six-sound-test
Pendahuluan
Nampaknya dalam dunia kita yang berteknologi tinggi, kebanyakan dari kita percaya bahwa kita harus menggunakan suatu peralatan dengan detail khusus untuk melakukan penilaian terhadap segala hal. Namun dalam upaya kita untuk terus mencapai suatu standar tertinggi, terbaik dan lebih kuat lagi, seringkali mengabaikan prosedur sederhana yang tepat.
The Ling Six Sound Test (Ling 1976, 1989) adalah salah satu prosedur itu, yang dalam pengalaman kami, seringkali terabaikan. Padahal salah satu keuntungan dari prosedur ini adalah dapat dilakukan oleh siapapun, baik audiologis, terapis wicara, pendidik dan orang tua. “The Ling Six Sound Test” sebenarnya sungguh dapat memberikan ketepatan (seumpama mur dan baut) dalam latihan berbicara dan mendengar, tanpa harus menggunakan instrumen khusus yang detail. Prosedur ini dapat diterapkan pada alat bantu dengar, implant koklea, atau bahkan tanpa amplikasi sama sekali (bagi mereka yang memiliki pendengaran normal-penj). Sungguh merupakan alat “low tech” terbaik yang tetap sangat berguna guna mendapatkan penilaian yang cepat dan akurat terhadap kemampuan komunikasi yang esensial bagi orang dewasa dan anak-anak.
Sejarah
Konsep yang melatarbelakangi Daniel Ling (menciptakan) The Ling Six Sound Test adalah dengan memilih suara percakapan familiar yang secara umum mewakili spektrum percakapan dari frekuensi 250-8000 Hz. Rentang spektrum ini merupakan rentang yang sama dengan rentang yang diuji dengan pengujian audiometry konvensional. Ling menggunakan bunyi bahasa terisolasi (isolated phonemes) yang mentargetkan suara dengan frekuensi rendah, sedang dan frekuensi tinggi.
Bunyi bahasa untuk Ling Six Sound Test adalah [m], [oo] dalam bahasa Indonesia dibaca seperti /uu/, [ee] dalam bahasa Indonesia dibaca seperti /ii/, [ah], [sh] dan [s] dalam bahasa Indonesia dibaca seperti desis /sss/.
****Tambahan (sumber www.cochlear.com):
[m] mewakili suara frekuensi sangat rendah dan jika anak anda tidak dapat mendengarkan suara ini, umumnya tidak akan mendapatkan informasi frekuensi rendah yang cukup guna mengembangkan kemampuan berbicara dengan nada (tune) yang normal dan tanpa kesalahan vokal. [oo] dalam bahasa Indonesia dibaca seperti /uu/, memiliki informasi frekuensi rendah, [ee] dalam bahasa Indonesia dibaca seperti /ii/, memiliki sebagian informasi frekuensi rendah dan sebagian frekuensi tinggi, [ah], berada di tengah rentang frekuensi percakapan, [sh], berada di tengah ke tinggi (moderate) frekuensi percakapan, dan [s] dalam bahasa Indonesia dibaca seperti desis /sss/, berada pada rentang frekuensi sangat tinggi.
*****
Terdapat beberapa cara untuk menggunakan test ini untuk mengukur fungsi kemampuan mendengar. Kami akan menjelaskan review singkat hierarkhi kemampuan auditori yang akan sangat membantu anda dalam menggunakan the Ling Six Sound Test untuk mendapat manfaat optimal.
Erber (1982) mendeskripsikan 4 level hierarkhi skill auditori dalam merespon suara: deteksi, diskriminasi, identifikasi dan komprehensi/pemahaman (detection, discrimination, identification and comprehension). Sebagai tambahan, beberapa topik yang sama telah diulas dalam literatur psychoacoustics (Small, 1973).
Deteksi adalah kemampuan dasar dalam mendengar (Tye-Murray, 1998). Deteksi ditunjukkan dengan adanya perhatian/kesadaran/aware terhadap ada atau tidak adanya suara. Kemampuan ini merupakan level dasar dari persepsi suara. Skill deteksi adalah yang digambarkan pada test evaluasi audilogi komprehensif. Pengujian nada murni dicapai dengan bertanya kepada subjek respon terhadap suara ketika ia mendengarnya. Respon evaluasi audiologi dapat ditunjukkan dengan beragam bentuk. Balita dan anak kecil mungkin merespon dengan menengok ke arah datangnya suara. Anak usia pra sekolah mungkin merespon dengan tugas-tugas dalam permainan (play task) misalnya dengan melempar balok ke dalam ember ketika ia mendengar suara. Mengangkat tangan dan mengatakan “ya” ketika mendengar suara sebagaimana biasa dilakukan oleh subjek yang dewasa, adalah bentuk-bentuk deteksi suara.
Diskriminasi adalah kemampuan untuk menyampaikan apakah dua stimulasi suara sama atau berbeda. Dalam banyak cara untuk menguji kemampuan diskriminasi, tujuan yang ingin dicapai adalah untuk mengidentifikasi perbedaan antara dua suara, yang dapat dirasakan oleh subjek pendengar. Untuk dapat melakukan diskriminasi antara dua suara yang berbeda, pendengar harus terlebih dahulu dapat mendeteksi kedua suara itu. Dengan demikian, diskriminasi merupakan tugas yang lebih tinggi dibandingkan dengan deteksi.
Tugas identifikasi, termasuk di dalamnya adalah dapat memberi label atau nama bagi suara yang didengarnya. Tugas indentifikasi membutuhkan kemampuan pada pendengar untuk mendeteksi dan mendiskriminasikan suatu stimulus dan selanjutnya secara unik mengidentifikasikannya. Identifikasi adalah level tugas yang lebih tinggi lagi, dibandingkan dengan deteksi dan/atau diskriminasi.
Komprehensif adalah skill auditori yang lebih kompleks lagi, karena membutuhkan kemampuan bagi pendengar untuk mendeteksi, mendiskriminasi, mengidentifikasi dan memahami makna suara atau pesan yang ingin disampaikan. Komprehensi adalah kemampuan tertinggi dari 4 level skill auditori dan menjembatani persepsi pendengaran dengan kemampuan kognitif dan/atau bahasa.
The Ling Six Sound Test sangat berguna untuk mengukur kemampuan deteksi, diskriminasi dan identifikasi, namun bukan merupakan test untuk menilai kemampuan komprehensi.
Aplikasi
Saat menggunakan the Ling Six Sound Test, penguji/terapis mulai pada tingkat yang dikuasai oleh klien, dan bekerja menuju tingkat yang lebih tinggi. Sebagai contoh, jika seorang anak dengan gangguan pendengaran dapat mengulangi suara (tingkat identifikasi) di the Ling Six Sound Test, penguji seharusnya fokus mengarah pada isu identifikasi dan komprehensi. Menguji skill pada tingkat yang lebih rendah seperti deteksi atau diskriminasi tidak layak lagi dilakukan, disaat anak sudah menguasai kedua skill prasyarat tersebut sebelum mencapai tahap identifikasi.
The Ling Six Sound Test dapat digunakan dalam cara yang sama seperti test respon nada murni untuk mereka yang skill audiologinya masih berada di tingkat deteksi (Yoshinaga – Itano , 2000). Test dilakukan dengan menyajikan suara dan subjek merespon kehadiran suara. Dapat terjadi respons beragam seperti yang dibahas sebelumnya mengenai evaluasi audiologis.
Sebagai contoh, jika anda sedang bekerja dengan anak umur 3 tahun yang masih berada pada tahap deteksi dalam pengembangan kemampuan mendengar, anda dapat menggunakan the Ling Six Sound Test untuk mendapatkan secara cepat informasi seputar apa yang dia dengar dan respon saat menggunakan alat bantu dengar dibandingkan tidak menggunakan. Sebuah bentuk tugas sambil bermain, seperti melemparkan mainan balok ke dalam ember/keranjang saat dia mendengar suara, dapat dijadikan model respon. Perlu ditegaskan, sebatas maksud hanya untuk deteksi, anak tersebut tidak perlu paham perbedaan di antara berbagai suara, sebagaimana juga tidak diperlukan baginya untuk mengulangi suara yang didengarnya.
Jika ia dapat merespon tahapan deteksi, dengan enam suara dalam test, maka penguji tahu bahwa subjek telah mendengar suara di seluruh rentang spektrum percakapan. Jika subjek tidak menanggapi satu atau lebih dari suara dalam test, itu artinya anda mendapatkan informasi potensial seputar area frekuensi yang perlu ditargetkan untuk melatih pendengarannya. Sebagai catatan, jika respon yang diperoleh menunjukkan ketajaman pendengaran yang berbeda dari yang sebelumnya diperoleh (baik lebih baik maupun lebih buruk-penj), evaluasi audiologi mungkin diperlukan kembali. Oleh karena itu, meskipun the Ling Six Sound Test bukan merupakan evaluasi audiometri diagnostik, test ini dalam keadaan yang sesuai, adalah alat yang dapat membantu memberikan informasi analog/sepadan atau mirip dengan pengujian ambang batas (ASSR/BERA).
Kemampuan diskriminasi, level skill yang kedua di dalam hierarkhi, dapat juga diukur dengan the Ling Six Sound Test. Penguji/terapis dapat menampilkan dua suara yang berbeda pada test Ling-6 dan menanyakan pada subjek dengan gangguan pendengaran untuk mengidentifikasi kedua suara tersebut, sama atau berbeda (bisa digunakan kartu yang menggambarkan suara-suara dalam test ling-6, misalnya: pesawat untuk [ah] dan ular untuk [s] –penj). Jika individu masih berada pada fase awal pengembangan kemampuan diskriminasi, suara yang sangat berbeda dapat digunakan, sebagai contoh: [ah] dan [s].
Di sisi lain, saat subjek sudah menunjukkan kemajuan dalam pengembangan skill diskriminasi, suara yang mirip dapat digunakan untuk membangun kemampuan diskriminasi, sebagai contoh: [sh] dan [s].
Skill identifikasi mengharapkan individu dengan gangguan pendengaran dapat mengatakan, atau dalam bentuk lain menunjukkan, suara yang mereka dengar. Jika terapis mengatakan [s], maka diharapkan subjek dengan gangguan pendengaran akan dapat mengulangi suara/imitasi.
Perlu dicatat, kesalahan dalam mengulangi suara/imitasi dapat memberikan banyak informasi yang berguna untuk terapis. Jika seseorang tidak dapat mengimitasi suara dengan input pendengaran saja, maka terapis bisa menambahkan input visual. Setelah subjek yang bersangkutan mampu mengulangi suara dengan masukan visual dan pendengaran, isyarat visual bisa berangsur dihilangkan.
Aplikasi lain dari ujian tahap identifikasi menggunakan Ling 6 test adalah terkait dengan durasi. Tujuan dari uji ini adalah harapan subjek dengan gangguan pendengaran dapat melakukan imitasi suara dengan jeda waktu yang semakin pendek (Leach, 2003). Paling mendekati kemampuan ini adalah bagaimana subjek dapat mendengar suara dalam speech yang menyambung (tanpa jeda). Namun, jika subjek dengan gangguan pendengaran perlu jeda presentasi lebih lama untuk mendengar dan mengulangi suara sasaran, penguji tahu suara apa yang harus ditargetkan untuk dilatih. Tentu saja, hal ini juga mungkin bahwa sistem amplifikasi (alat bantu dengar, FM, dll) perlu disesuaikan.
Kegunaan lainnya lagi dari Ling 6 test dapat diterapkan untuk melatih mengatasi masalah signal-to–noise (tingkat kebisingan) dan figure-ground relationship (gema latar belakang). Hal ini dapat dicapai dengan menggunakan Ling 6 test dengan kenyaringan percakapan normal, dan pada jarak mendengarkan yang nyaman, mungkin 3 atau 4 kaki (sekitar 1 s.d. 1.5 meter). Kemudian, sambil mempertahankan kenyaringan vokal yang sama, secara bertahap meningkatkan jarak antara speaker dan pendengar. Hal ini akan membantu untuk meningkatkan “distance listening skills” (kemampuan mendengar dalam jarak) sebagai indikator kemampuan utama mengurangi dominasi (dan menyesuaikan diri terhadap) level kebisingan dan gema latar belakang secara bertahap.
The Ling Six Sound Test juga dapat berguna sebagai identifikasi awal adanya gangguan di telinga tengah (Laughton & Hasenstab, 2000). Sebagai contoh, Tyler adalah anak 4 tahun dengan kehilangan pendengaran sensorineural sedang. Dia menggunakan alat bantu dengar kira-kira dalam jangka waktu 2 tahun. Setiap awal sessi terapi wicara, terapis wicaranya telah mengecek kualitas output alat bantu dengarnya dengan stetosklip. Ia juga melakukan Ling Six Sound Test untuk mengecek skill pendengaran Tyler. Pada awalnya Tyler telah dapat mengulangi keseluruhan suara pada Ling 6 sebagai tugas tingkat pertama identifikasi.
Suatu hari ia mengalami kesulitan mengulangi beberapa suara. Segera, terapisnya waspada terhadap fakta bahwa ada sesuatu yang berbeda dengan Tyler. Dia tahu alat bantu dengarnya bekerja karena dia telah mengeceknya sendiri. Terapis wicara berbicara dengan ibu Tyler, mencatat inkonsistensi tersebut dan merekomendasikan evaluasi lebih lanjut. Dokter THT Tyler selanjutnya mengkonfirmasi adanya infeksi telinga.
Pengamatan serupa bisa juga berlaku untuk penggunaan cetakan earmold baru, alat bantu dengar baru, alat bantu dengar yang baru difitting ulang, baterai mati, malfungsi dan kerusakan pada implan koklea, dan masalah-masalah lain (termasuk misalnya infeksi cmv yang berlanjut-penj).
Kesimpulan:
Kebanyakan terapis familiar dengan the Ling Six Sound Test. The Ling Six Sound Test adalah “teknologi” yang sederhana, mudah dipelajari, namun memiliki beragam aplikasi yang berguna. Sayangnya, test Ling 6 seringkali dimanfaatkan terbatas hanya pada menguji skill deteksi. The Ling Six Sound Test dapat menyediakan verifikasi kemampuan mendengar secara cepat, dapat digunakan sebagai acuan kesinambungan dan dasar untuk menyiapkan program pelatihan dan pengembangan skill mendengar lebih lanjut, dapat berfungsi sebagai panduan untuk menetapkan tujuan pelatihan pendengaran, dan dapat berfungsi sebagai “bendera merah” untuk masalah yang berhubungan dengan pendengaran, gangguan pendengaran dan sistem amplifikasi.
References:
Erber, N. (1982). Auditory training. Washington, DC: Alexander Graham Bell Association for the Deaf.
Laughton, J., & Hasenstab, S.M. (2000). Auditory learning assessment, and intervention with school-age students who are deaf or hard-of-hearing. In Alpiner, J.G., & McCarthy, P.A. (Eds.), Rehabilitative audiology: Children and adults (pp. 178-225). Philadelphia, PA: Lippincott Williams & Wilkins.
Leach, M. (2003, October). Tips from the toy box. Paper presented the annual meeting of the Arkansas Speech-Language-Hearing Association, Hot Springs, Arkansas.
Ling, D. (1976). Speech and the hearing-impaired child: Theory and practice. Washington, DC: Alexander Graham Bell Association for the Deaf.
Ling, D. (1989). Foundations of spoken language for the hearing-impaired child. Washington, DC: Alexander Graham Bell Association for the Deaf.
Small, A. M. (1973). Psychoacoustics. in Minifie, F.D., Hixon, T.J. and Williams, F. (Eds.), Normal Aspects of Speech, Hearing, and Language (pp. 347). Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall, Inc.
Tye-Murray, N. (1998). Foundations of aural rehabilitation. San Diego, CA: Singular Publishing Group.
Yoshinaga-Itano, C. (2000). Assessment and intervention with preschool children who are deaf and hard-of-hearing. In Alpiner, J.G., & McCarthy, P.A. (Eds.), Rehabilitative audiology: Children and adults (pp. 140-177). Philadelphia, PA: Lippincott Williams & Wilkins.
Sumber:
*Terima kasih, Pak*

Type Pola Asuh Orang Tua Terhadap Anaknya

“Bu Dion galak sih kalau sama anak. Aku kan nggak bisa galak ke anak.”
*Ini response orang tua atas contoh yang saya berikan dalam keseharian saya dengan Menur*

“Bedakan ya antara galak dan tegas. Saya tegas, bukan galak.” *Jawaban kudu ngelesdotcom*

Jadi terpikir oleh saya, tahukah para orang tua tersebut tentang pola asuh atau gaya parenting orang tua terhadap anaknya? Bagaimana gaya mereka dalam mengasuh anak mereka? Apakah mereka memahami bagaimana cara anda mengasuh anak mereka? Apa efek dari pola asuh yang mereka terapkan? Apakah ada cara terbaik dalam mengasuh anak?

Menurut Diana Baumrind, seorang pakar parenting, pola asuh yang terbaik adalah:
• Tidak boleh terlalu menghukum (punitive)
• Tidak boleh terlalu tak peduli (aloof)
• Dalam menyusun aturan bagi anak tetap bersikap supportive dan membimbing dan mengasuh (nurturant).

Diana Baumrid menggolongkan empat bentuk gaya asuh atau parenting, yaitu:

1. Authoritarian Parenting
gaya asuh yang bersifat:
a) Membatasi dan menghukum.
b) Orang tua otoriter, memerintahkan anak untuk mengikuti petunjuk mereka dan menghormati mereka.
c) Membatasi dan mengontrol anak, tidak mengijinkan anak bertanya.
d) Hanya ada sedikit  percakapan antara anak dan orang tua.

Hasilnya:
a) anak tidak kompeten secara sosial.
b) Anak tidak bisa membuat inisiatif untuk beraktifitas
c) Keahlian komunikasi anak buruk.

2. Authoritative Parenting 
gaya asuh yang bersifat:
a) Positif, mendorong anak untuk independen tetapi masih membatasi dan mengontrol tindakan anak.
b) Terjadi percakapan ekstensif.

Hasilnya:
a) Anak berperilaku kompeten secara sosial.
b) Anak mandiri.
c) Anak tidak cepat puas.
d) Anak yang gaul.
e) Anak memperlihatkan harga diri yang tinggi.

3. Neglectful Parenting 
Gaya asuh yang bersifat:
a) Tidak peduli atau mengabaikan.
b) Orang tua hanya meluangkan sedikit waktu dengan anak-anaknya.
c) Orang tua menganggap bahwa aspek lain dari kehidupan orang tua lebih penting dari kehidupan anak.

Hasilnya:
a) Tidak kompeten secara sosial.
b) Kurang bisa mengontrol diri.
c) Tidak cukup mandiri.
d) Tidak termotivasi untuk berprestasi.

4. Indulgent Parenting
Gaya asuh yang bersifat:
a) Sangat terlibat aktif dalam kehidupan anak tetapi tidak member batasan atau kekangan pada perilaku anak.
b) Membiarkan anak untuk melakukan apa yang diinginkan.
c) Membiarkan anak untuk mencari sendiri untuk pencapaian tujuan.
d) Orang tua yakin bahwa kombinasi dukungan pengasuhan dan sedikit pembatasan akan menciptakan anak yang kreatif dan percaya diri.

Hasilnya:
a) tidak kompeten secara sosial.
b) tidak belajar untuk mengontrol perilakunya sendiri.

Sumber:
Educational Psychology, John W. Santrock

image

Jadi yang manakah gaya pola asuh anda?

Alhamdulillah atas ijin Allah

image

Ternyata sesekali perlu juga menyisihkan waktu untuk menoleh ke belakang, melihat perjalanan hidup yang telah dilalui. Bahkan saya menyempatkan diri mengumpulkan foto-foto di atas sebagai pengingat masa lalu. Melihat kemajuan yang telah dicapai saat itu membuat hati ini tidak berhenti bersyukur. Alhamdulillah.

Menur kecil dengan pakaian Betawi adalah foto ketika lulus TK Soedirman. Usianya saat itu sudah 7 tahun 7 bulan. Satu-satunya siswa yang pakai alat bantu dengar. Selama di TK Menur kecil ini sangat menikmati sekolah.

Menur kecil dengan kebaya Kartini adalah foto ketika hari Kartini kelas 1 SD. Yes, Menur berhasil memenuhi syarat untuk mengikuti pelajaran di Primary Global Islamic School dengan tes masuk: tes IQ dan tes kesiapan belajar. Selama kelas 1 pun Menur dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Posisi nilainya ada pada urutan tengah.

Foto kanan atas yang pakai topi itu diambil kelas 2 SD. Saat itu baris sebelum masuk kelas. She looked happy, kan?

Foto di atas tengah itu ketika Menur kelas 3 SD. Mau berangkat sekolah diantar Ayah. Senangnyaaaa😀

Foto di kiri bawah itu ketika kelas 4 SD. Hasil wefie berdua Ibu. Sudah kelihatan remaja ya? Nggak seperti anak-anak lagi😀

Foto tengah bawah itu hari pertama kelas 5 SD. Waktu itu hari pertama sekolah diawali dengan pesantren kilat 5 hari menginap di sekolah. Jadi waktu itu sudah siap-siap dengan berbagai perlengkapan.

Foto kanan bawah itu hari pertama masuk kelas 6. Tapi itu bukan hari pertama sekolah. Sekolah dimulai ketika bulan puasa selama lima hari, dan saat itu Menur masih berada di Perth. Jadi ya bolos deh, hehehe….

Pelajaran sekolah dapat diikuti dengan baik, dengan berbagai dukungan. Pakai FM system, mengulang dan mempersiapkan pelajaran di rumah. Alhamdulillah tidak menemui kesulitan yang berarti. Jadi apa yang bisa saya ucapkan selain hamdallah? Alhamdulillah semuanya tercapai atas ijin Allah.

Mempersiapkan Menur untuk berjuang di lingkungan umum.

Anak dengan gangguan pendengaran (tidak) BISA!

Nobar Inside Out

Nobar? Iya, nonton bareng Menur, hehehe. Hari Jumat tanggal 18 September 2015 kemarin kami nonton film Inside out, sebuah film kartun yang ternyata isinya berat banget buat anak-anak bahkan buat remaja. Film dengan durasi 101 menit itu memang buat 13 tahun ke atas. Cerita di film itu sebenarnya adalah teori neuropsikologi yang dikemas dalam bentuk kartun sehingga mudah untuk dicerna. Bercerita tentang mesin emosi yang ada di dalam diri seorang anak bernama Riley yang mengendalikan berbagai tingkah lakunya. Ada lima emosi di dalam kepala Riley, yaitu Joy, Fear, Anger, Disgust, dan Sadness. Film ini juga bercerita tentang tidur dan mimpi, serta tentang memory (LTM, STM, Core Memory).

emotions inside out

Lima bentuk emosi itu: Anger, Disgust, Joy, Fear, Sadness

Bagaimana Menur menonton film ini? Nah disini serunya. Di tengah keletihan setelah sekolah dan mengikuti kelas manga, kami ke Kemang Village untuk nonton film ini. Begitu memasuki ruangan XXI dan antri untuk membeli ticket, Menur bilang: “Bu, ini ternyata untuk 13 tahun ke atas. Aku kan umur 12. Gimana? Boleh nggak aku nonton?” Untung saya sudah baca sinopsis film ini, jadi saya bilang boleh. And for your info, saat ini usia Menur 12 tahun 10 bulan. Hahahaha….

image

Ada beberapa komentar lucu ketika kami membahas film ini setelah selesai nonton: “Kenapa imaginary friend aku sekarang kok hilang? Apa karena nggak masuk ke LTM?” Atau: “Emosi mana yang lebih kuat di diri aku? Aku kan nggak pemarah, nggak jijikan. Tapi aku gampang sedih. Yang mana, bu?” Atau juga: “Berarti kalau mau mudah hafal harus dimasukkan ke dalam Core Memory kan? Supaya masuk ke LTM?” Wow….

Kembali lagi Ibu mensyukuri berbagai perkembangan yang ada di dirimu, Menur. Gangguan pendengaran tidak menghambat perkembangan kognitifmu. Ayo terus berkembang dengan sebaik mungkin. I’m so proud of you.

I Hate Butterflies

Pada bulan januari 2014 ayahnya Menur pergi ke Bantimurung – Maros untuk keperluan pekerjaan. Dan ketika pulang ayah membawa oleh-oleh untuk Menur berupa kupu-kupu yang telah dikeringkan dan diberi label sesuai nama kupu-kupu tersebut. Sebagai kejutan, ayah menempelkan kupu-kupu tersebut di pintu lemari milik Menur pada pagi hari setelah Menur berangkat sekolah. Dengan harapan Menur akan senang melihat kupu-kupu tersebut.

image

Ketika pulang sekolah, tarrraaaa….., Menur memang terkejut mendapati banyak kupu-kupu di pintu lemarinya. Tapi ternyata Ayah salah sangka. Menur tidak suka kupu-kupu! Bahkan cenderung takut! Ah, Ayah salah kali ini.

Lama menunggu Ayah pulang, akhirnya Menur menuliskan pesan untuk Ayah. Tentu saja berkaitan dengan kupu-kupu oleh-oleh dari Ayah.

image

Hahahaha…. Karena digambar dan ditulis dengan ketakutan terhadap kupu-kupu yang ada di pintu lemarinya, jadilah tulisan dan gambar di whiteboard tersebut ada salahnya. Alhasil, malam itu Menur tidur di kamar ibu dan ayah.

image

Beware Of Mafia

(Ditulis oleh Menur sebagai tugas sekolah dengan bahasa inggris yang belum sempurna).

Once upon a boy names Roxas. He was an orphan. And he was raised by Marlaxia and Alex. He was so happy, but one day later he was so scared and cried a lot, and “???” asked a question to Roxas “what is ypur name, kid?” Roxas answered “R… Roxas.” And the man was surprised. No doubt this kid Roxas. “Don’t worry we are you ally. My name is Misaka Mikoto” Mikoto answered. “Misaka? So you’re a girl. Sorry I thought that you’re a boy.”

“Now Roxas this city is in danger. Please come with us. Oh! And that Marloxia person is a mafia and Alex too.” Roxas was surprised that ks mom and had rr a mafia. But I don’t believe you!” Roxas was come back and killed by Marloxia. “Good bye Roxas. I’m sorry.” Misoka cried a lot but she think that Roxas is happy.

image

Jum’at, 7 Februari 2014