Bagaimana Mendengar dan Berbahasa Yang Baik Pada Anak Dengan Gangguan Pendengaran, Tema Pertemuan AKRAB Hari Minggu 14 November 2010

Pada hari minggu tanggal 14 November 2010 kemarin Yayasan AKRAB kembali mengadakan sharing parents dengan tema: Bagaimana Mendengar dan Berbahasa Yang Baik Pada Anak Dengan Gangguan Pendengaran. Materi ini disampaikan oleh Ibu Ir. Nora Amelda Rizal, M.Sc., M.M. Ibu Ola saat ini bekerja sebagai Dosen Tetap Fakultas Manajemen Bisnis, Institut Manajemen Telkom di Bandung. Beliau juga dikaruniai seorang anak dengan gangguan pendengaran yang berusia tiga tahun.

Berikut adalah sekilas tentang latar belakang pendidikan dan pekerjaan dari Mama Yasmin:

LATAR BELAKANG PENDIDIKAN

1. Aerospace Engineering, Technische Universiteit te Delft (Bachelor and Master Degree), Delft, Belanda

2. Magister Manajemen (Masgister), Universitas Padjadjaran, Bandung Indonesia

PEKERJAAN

A. Non Pendidikan

1. 1993-2000 Karyasiswa, PT. Dirgantara Indonesia Bandung Indonesia

2. 1997-1998 Stagiaire, Fokker Control System, Fokker BV, Schipholl, The Netherlands

3. 2002-2003 Staff Engineer PT. Dirgantara Indonesia, Bandung

B. Pendidikan

1. 2000-2001 Assisten Dosen, Fakultas Teknik Mesin, Universitas Trisakti, Jakarta

2. 2000-2001 Dosen LB Fakultas Teknik Penerbangan, Universitas Suryadharma Halim, Jakarta.

3. 2003-2009 Dosen LB Fakultas Teknik Informatika, Universitas Nasional PASIM, Bandung

4. 2009-Sekarang Dosen Tetap Fakultas Manajemen Bisnis, Telekomunikasi dan Informatika, Institut Manajemen Telkom, Bandung

5. 2004-Sekarang Pemilik dan Pengajar Lembaga Pendidikan Non-Formal, Delft’s Education, Cimahi
(pengajar Bahasa Inggris dan Matematika untuk anak-anak dan Dewasa)

Bagaimana Mendengar dan Berbahasa Yang Baik Pada Anak Dengan Gangguan Pendengaran

Telinga manusia dapat mendengar suara dari frekuensi 20 – 20.000 hertz. Apakah frekuensi itu? Frekuensi adalah ukuran yang dipakai untuk menyatakan tinggi rendahnya suara. Contohnya, suara laki-laki dan perempuan. Suara laki-laki dibedakan menjadi tenor, bariton, dan bas. Sedangkan suara perempuan dapat dibedakan menjadi alto, messo sopran, dan sopran.

Bagian atau area dari otak yang bertanggung jawab untuk produksi suara, pengolahan bahasa, pemahaman bahasa, dan mengontrol syaraf-syaraf di wajah disebut Area Broca. Area Broca terletak di lobus frontalis korteks otak besar. Area Broca ini mulai bekerja ketika syaraf pendengaran terbentuk dan mendengar suara. Sedangkan syaraf pendengaran mulai terbentuk ketika janin berusia tiga bulan di dalam kandungan. Ini berarti janin yang berusia tiga bulan dalam kandungan sudah dapat mendengar suara ibunya. Suara dan bahasa ibunya ini menjadi bahasa pertama anak tersebut. Sejak janin usia tiga bulan inilah Area Broca mulai bekerja memproses bahasa.

Pembentukan otak bersamaan dengan penerimaan bahasa membuat Area Broca siap menerima pemahaman lebih lanjut terhadap bahasa ketika bayi sudah keluar dari perut ibu. Ketika lahir bayi tidak langsung bisa paham akan bahasa dan tidak langsung bisa bicara. Bayi masih membutuhkan waktu selama kurang lebih satu tahun untuk dapat bicara, walaupun sudah mendengar suara ketika usia tiga bulan dalam kandungan. Ini berarti anak mendengar membutuhkan waktu 1,5 tahun untuk dapat berbicara, sejak terbentuknya Area Broca hingga berusia satu tahun.

Lantas, bagaimana dengan pembelajaran mendengar dan bahasa pada anak dengan gangguan pendengaran?

Anak dengan gangguan pendengaran tidak sama dengan anak yang dapat mendengar normal. Area Broca yang seharusnya terbuka sejak janin usia tiga bulan baru akan terbuka ketika anak itu mulai memakai ABD yang TEPAT. Makna tepat disini adalah sesuai dengan tingkat pendengaran yang dibutuhkan dan selalu dipakai selama anak ini terjaga. Berarti apabila seorang anak mulai memakai ABD pada usia satu tahun, maka usia pendengarannya adalah nol bulan. Dan apabila disamakan dengan anak yang dapat mendengar normal, ia juga membutuhkan waktu 1,5 tahun untuk dapat belajar menangkap suara, mendengar, menirukan, menangkap makna, dan berbahasa dengan baik.

Bagi anak dengan gangguan pendengaran, bahasa pertamanya adalah sunyi, sehingga bahasa yang kemudian kita ajarkan menjadi bahasa keduanya. Bagaimana cara mengajarkan bahasa yang biasa kita gunakan kepada anak kita yang mengalami gangguan pendengaran sebagai bahasa keduanya? Sama seperti mengajarkan bahasa pada anak yang tidak mengalami gangguan pendengaran, prosesnya adalah mendengar – memimik – memproduksi – berbahasa. Mendengar suara pengajar. Meniru suara pengajar. Apabila salah akan dibetulkan oleh pengajar. Meniru lagi dengan dialek dan pengucapan yang benar. Dibetulkan lagi oleh pengajar. Begitu berulang-ulang dan berulang-ulang.

Apabila kita mendapati anak kita mengalami gangguan pendengaran, hal pertama yang harus dilakukan adalah memakaikan ABD yang sesuai dengan kebutuhan. ABD ada dua macam, analog dan digital. ABD analog bekerja dengan memperkeras suara di semua frekuensi, termasuk noise-nya. Namun dengan kemajuan teknologi sekarang ini, noise sudah bisa dikurangi. ABD digital berbeda dengan ABD analog. Pada ABD digital terdapat fitur noise canceller, sehingga noise bisa direduksi dan suara yang dihasilkan bisa lebih bersih. Selain itu juga terdapat pembagian channel sehingga ABD bisa di-setting sesuai dengan hasil pemeriksaan ASSR.

Bagaimana kita mengetahui bahwa anak kita bisa diberikan ABD analog? Yaitu apabila hasil ASSR anak kita rata di semua frekuensi. Misalnya hasil pemeriksaan menunjukkan angka 80dB di semua frekuensi. Sedangkan apabila hasil pemeriksaan menunjukkan hasil yang berbeda pada setiap frekuensi pemeriksaan, maka sebaiknya diberikan ABD digital, agar bisa disetting sesuai hasil pemeriksaan. Misalkan: 80dB di 500Hz, 100dB di 1000Hz, 70dB di 2000Hz, dlsb.

Setelah anak memakai ABD yang tepat, beri kesempatan anak untuk mendengar secara alami. Sama seperti orang yang mendengar normal, yang memerlukan waktu kurang lebih 1,5 tahun untuk dapat berbahasa dengan baik. Harus diingat bahwa bahasa pertamanya adalah sunyi. Bahasa yang kita ajarkan adalah bahasa kedua. Dan sama seperti orang yang tidak mengalami gangguan pendengaran, mempelajari bahasa kedua adalah dengan mendengar à memimik à memproduksi à barulah berbahasa. Artinya anak dengan gangguan pendengaran tidak akan langsung bisa berbahasa dalam waktu tiga bulan saja, walaupun sudah memakai alat bantu dengar yang tepat, baik yang ditanam maupun yang di belakang telinga.

Demikian, semoga bermanfaat.

Sumber: http://menurntik.multiply.com/journal/item/64/Bagaimana-Mendengar-dan-Berbahasa-Yang-Baik-Pada-Anak-Dengan-Gangguan-Pendengaran-Tema-Pertemuan-AKRAB-Pada-Hari-Minggu-14-November-2010

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s